Senin, 30 November 2020

RESUME Mengelola K3 Pada Era “Adaptasi Kebiasaan Baru”

Mengelola K3 Pada Era “Adaptasi Kebiasaan Baru”

ü  Sekilas Info

Kasus covid-19 di Indonesia

v  Gejala Covid-19

Ø  Demam

Ø  Batuk, pilek

Ø  Gangguan pernapasan

Ø  Sakit tenggorokan

Ø  Letih, lesu

v  Pencegahan Covid-19

·         Umum

1. Sering cuci tangan pakai sabun

2. Gunakan masker bila batuk atau pilek

3. Konsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah

4. Hati-hati kontak dengan hewan

5. Rajin olahraga dan istirahat yang cukup

6. Jangan mengkonsumsi daging mentah

7. Bila batuk, pilek dan sesak napas segera ke fasilitas kesehatan

·         Tempat kerja

1. Manajemen selalu memperhatikan perkembangan informasi Covid-19 dari pemerintah.

2. Mewajibkan semua karyawan mengenakan masker di tempat kerja dan selama perjalanan.

3. Melarang masuk karyawan dan tamu yang batuk, pilek, demam, dan sesak napas.

4. Tetap memberikan hak-hak karyawan jika dia menjalani karantina/isolasi mandiri.

5. Jika saat skrining ada karyawan bergejala Covid-19 manajemen harus menyediakan ruang observasi.

6. Tempat kerja yang punya fasilitas dapat menyelenggarakan temopat karantina/isolasi mandiri.

7. Jika mampu, manajemen menyediakan transportasi agar karyawan tak menggunakan transportasi publik.

8. Manajemen mendorong karyawan melakukan penilaian diri (self assesment) risiko Covid-19.

·         Bagi karyawan

1. Begitu tiba langsung mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

2. Membersihkan meja kerja dengan disinfektan.

3. Gunakan siku untuk membuka pintu dan tombol lift.

4. Usahakn tidak menyentuh alat kerja yang dipakai bergantian, jika pun pakai jangan lupa gunakan hand sanitizer

5. Biasakanlah tidak berjabat tangan.

6. Jaga jarak minimum 1 meter.

v  Aplikasi Program Pencegahan Kecelakaan melalui Siklus PDCA

Leading Indicator     =              Insiden                        =          Lagging Indicator

·         Leading Indicator

1. STOP/Safety Observation

2. Risk Assessment/JSA development

3. Pre Job Safety Meeting

4. Emergency Drill

5. HSE Inspection

6. HSE audit

7. PPE Compliance

8. Management of Cange (MOC)

9. House Keeping (5R)

·         Lagging Indicator

1. LTI Freg. Rate

2. Recordable & reportable FR

3. Recordable & reportable SR

4. Non Productive Time

5. Regulatory Violations

6. Unplanned Shutdowns

7. Non-conformity

8. Keluhan pelanggan

·         Siklus PDCA

     


Artikel 1 :

Sampai saat ini, jumlah kasus baru positif Covid-19 terus bertambah dan belum dapat dipastikan akhir dari kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia. Tingginya jumlah kasus baru Covid-19 merupakan cerminan penularan masih terjadi di masyarakat dan belum maksimalnya masyarakat melaksanakan imbauan protokol kesehatan. Namun di sisi lain, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan pelonggaran PSBB. Memasuki era tatanan new normal perlu ada perubahan perilaku dalam penerapan protokol kesehatan karena dapat mempercepat penanganan pandemi Covid-19. Tulisan ini membahas kondisi penerapan protokol kesehatan di masyarakat dan mencermati tantangan serta peluang yang dapat dilakukan dalam mengubah perilaku masyarakat agar dapat disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19. Pelanggaran dan rendahnya penerapan protokol kesehatan serta ketidakpuasan masyarakat sebagai tantangan sekaligus pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Perubahan perilaku melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui kegiatan Desa/Kelurahan/Kampung Tangguh Bencana Covid-19 merupakan kunci dalam pendisiplinan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. Tingkat keberhasilan sangat dipengaruhi oleh komitmen dan kerja sama semua sektor serta pembinaan dan pengawasan oleh pemerintah daerah.

Penulis

Tri Rini Puji Lestari, S.K.M., M.Kes. Drs. Juli Panglima Saragih. M.M. dan Mandala Harefa, S.E., M.Si. Dian Cahyaningrum, S.H., M.H. dan Monika Suhayati, S.H., M.H. Debora Sanur Lindawaty, S.Sos., M.Si. dan Drs. Ahmad Budiman, M.Pd. Prof. Dr. phil. Poltak Partogi Nainggolan, M.A.

Referensi

http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/parliamentary_review/Parliamentary%20Review-II-3-S-2020.pdf

 

 

 

Artikel 2 :

 Keselamatan dan Kesehatan Kerja sekarang ini telah menduduki tempat yang penting dalam perusahaan terutama dalam pekerjaan konstruksi. Rasa aman dan nyaman dalam bekerja merupakan tuntutan bagi perusahaan untuk dapat memenuhinya dalam rangka memberikan jaminan kerja bagi pekerja proyek maupun karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi K3 dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi pada proyek pembangunan pabrik minyak PT. MNS dengan berpatokan pada SMK3. Penelitian menggunakan questioner survei dan wawancara langsung di lapangan, dilanjutkan dengan identifikasi lokasi proyek, survei secara visual di proyek dan pengambilan dokumentasi dilapangan. Pada proyek Pembangunan Pabrik Minyak PT.MNS, implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sudah berjalan cukup baik, karena di proyek ini penyelenggara pekerjaan konstruksi (Kontraktor) telah menyediakan alat pelindung diri (APD) bagi para pekerja dan adanya sosialisasi tentang K3 juga sudah dilakukan oleh pihak kontraktor dan Para pekerja cukup memahaminya namun masih ada saja pekerja yang berkesan tidak peduli dengan Keselamatan dan Kesehatan kerja tersebut, dapat dilihat dari hasil questioner menyatakan, 100% (Ya) karena pekerjaan konstruksi (kontraktor) telah memberikan alat pelindung diri (APD); 98% mengetahui apa yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja; dan 100% pekerja menyatakan adanya jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Penulis

Dameyanti Sihombing D. R. O. Walangitan, Pingkan A. K. Pratasis

Referensi

https://media.neliti.com/media/publications/130998-ID-implementasi-keselamatan-dan-kesehatan-k.pdf



Artikel 3 :

Sejumlah ketentuan dalam Konvensi dan rekomendasinya menawarkan langkah-langkah pencegahan dan perlindungan untuk mengurangi dampak negatif keselamatan dan kesehatan dari pandemi seperti COVID-19 di dunia kerja. Berikut adalah beberapa dari ketentuan-ketentuan tersebut: Pengusaha harus diminta untuk memastikan, sejauh dapat dipraktikkan secara wajar, tempat kerja, mesin, peralatan dan proses di bawah kendali mereka dalam kondisi aman dan tanpa risiko terhadap kesehatan dan bahwa zat dan agen kimia, fisik serta biologis yang ada di bawah kendali mereka terbebas dari risiko kesehatan ketika langkahlangkah perlindungan yang tepat diambil. Pengusaha harus diminta untuk menyediakan, jika perlu, pakaian pelindung yang memadai dan alat pelindung diri untuk mencegah, sejauh dapat dipraktikkan secara wajar, risiko kecelakaan atau dampak buruk terhadap kesehatan. Pakaian dan alat pelindung yang demikian harus disediakan, tanpa membebankan biaya apa pun kepada pekerja. Pengusaha harus diminta untuk menyediakan, jika perlu, langkah-langkah untuk menangani keadaan darurat dan kecelakaan, termasuk pengaturan pertolongan pertama yang memadai. Pengusaha juga harus memastikan bahwa pekerja dan perwakilan mereka dikonsultasikan, diinformasikan dan dilatih mengenai K3 terkait dengan pekerjaan mereka. Pekerja dan perwakilan mereka memiliki hak untuk menerima informasi dan pelatihan yang memadai tentang K3. Mereka juga harus dimungkinkan untuk menyelidiki - dan untuk dikonsultasikan oleh pengusaha tentang - semua aspek K3 terkait dengan pekerjaan mereka. Pekerja juga memiliki hak untuk menyingkir dari situasi kerja yang menurut mereka cukup beralasan akan menimbulkan bahaya serius bagi kehidupan atau kesehatan mereka, tanpa harus menanggung konsekuensi. Dalam kasus seperti itu, pekerja harus melaporkan situasi yang demikian kepada atasan langsung mereka; hingga pengusaha telah mengambil tindakan perbaikan, yang diperlukan, pengusaha tidak boleh meminta pekerja untuk kembali ke situasi kerja di mana ada bahaya serius yang mengancam kesehatan atau kehidupan yang mungkin akan terjadi.

Penulis

International Labour Organization Labour Administration, Labour Inspection and Occupational Safety and Health Branch (LABADMIN/OSH)

Referensi

https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-jakarta/documents/publication/wcms_742959.pdf

 

Senin, 23 November 2020

TUGAS RESUME VIDEO (Health and Safety Management)

  •  

TUGAS RESUME VIDEO (Health and Safety Management)

 

Ditulis untuk Memenuhi Nilai Mata Kuliah Kesehatan dan Keselamatan Kerja

 

Dosen Pengampu: Widhy Wahyani, S.T., M.T.

 

 



 

 

 

 

Oleh :

 

 

Raden Edwin Febi Wicaksono           1853006

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI D-IV

 

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

 

INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

 

MALANG 2020

 


HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT

Definisi sistem manajemen H&S :

            Organisasi yang dapat mengontrol resiko dari pada proses pekerjaan. Menjalani peran sebagai OH&S, merupakan suatu peran yang tidak disenangi oleh banyak orang, karena di dalam setiap program yang telah ditetapkan ada investasi besar yang akan dikeluarkan. Dari situlah tugas OH&S yaitu bagaimana untuk dapat menetapkan kebijakan dan menjalankan sistem dengan baik lalu pastinya memberikan pemahaman kepada top management.

Elemen kunci dari sistem manajemen H&S

Penjelasan :

  •           Kebijakan

            Kebijakan kesehatan dan keselamatan yang efektif menetapkan arah yang jelas bagi organisasi untuk diikuti. Menetapkan roles dan mengevaluasi "day to day" untuk mengimprove roles/kebijakan yang sudah dibuatkan, setelah kebijakan dibuatkan wajib dikomunikasikan dari level terendah (OB, supir dll) hingga ke level direksi.

  •           Perorganisasian

            Struktur dan pengaturan manajemen yang efektif tersedia untuk menyampaikan kebijakan. Program yang di maintain untuk mendapatkan objektif dari kebijakan yang telah ditetapkan, tanpa organising yang baik maka kebijakan tidak dapat berjalan dengan baik.

  •           Perencanaan dan implementasi

            Ada pendekatan yang terencana dan sistematis untuk menerapkan kebijakan kesehatan dan keselamatan melalui sistem manajemen kesehatan dan keselamatan yang efektif. Perencanaan yang baik akan membuat hasil yang baik, perencanaan terjemahan dari bagaimana mendapatkan/mencapai kebijakan yang ada. Implementasi sebagai contoh HSE walk merupakan program untuk inspeksi yang dilakukan cross department, pada dasarnya kacamata seseorang berbeda-beda, dengan adanya cross department untuk melakukan visit walk itu salah satu yang sangat efektif agar tidak hanya berpatokan dengan diri sendri namun dengan lainnya.

  •           Mengukur kinerja

            Kinerja diukur berdasarkan standar yang disepakati untuk mengungkapkan kapan dan dimana perbaikan diperlukan. Bagaimana menilai kinerja dari setiap department dengan melihat berdasarkan angka-angka dan sejauh mana implementasi itu baik.

  •           Meninjau kinerja dan audit

            Organisasi belajar dari semua pengalaman yang relevan dan menerapkan pelajaran tersebut. Tentang bagaimana mengecek dari planning yang dibuat kemudian mengukur kinerja lalu meninjau kinerja. Audit dilakukan minimal 1x dalam setahun, audit itu cross department dan yang melakukan audit tidak boleh dengan department sendiri dan nantinya akan dilihat dan ditinjau dari sudut pandang orang lain.


Aspek praktis dari sistem manajemen H&S

    Kebijakan kesehatan dan keselamatan (1) :

  •           Kebijakan OH&S menetapkan arah keseluruhan dan menetapkan prinsip tindakan untuk suatu organisasi.
  •           Menetapkan tujuan untuk tingkat tanggung jawab K3 dan kinerja yang dibutuhkan.
  •           Menunjukkan komitmen formal terhadap manajemen K3 yang baik, terutama manajemen tertinggi.
    Kebijakan kesehatan dan keselamatan (2) :
  • Mengakui bahwa K3 adalah bagian integral dari kinerja bisnisnya.
  • Mencapai tingkat kinerja K3 yang tinggi, dengan kepatuhan minimal terhadap persyaratan hukum, dan peningkatan kinerja yang hemat biaya secara berkelanjutan.
  • Menyediakan sumberdaya yang memadai dan tepat untuk melaksanakan kebijakan.
    Kebijakan kesehatan dan keselamatan (2.1) :
  • Pengaturan dan penerbitan tujuan K3, meskipun hanya dengan pemberitahuan internal.
  • Menempatkan manajemen K3 sebagai tanggung jawab utama manajemen lini, dari eksekutif paling senior hingga tingkat pengawasan lini pertama.
  • Untuk memastikan bahwa pernyataan kebijakan dipahami, diterapkan dan dipelihara di semua tingkatan dalam organisasi.
    Kebijakan kesehatan dan keselamatan (2.2)
  • Peran dan strategis dari manajemen terkait dengan leadership dari implementasi H&S sangat penting. Dalam posisi managerial hanya terfokus pada desk/layar, sedangkan tim yang bekerja banyak sekali kekurangan, kendala lapangan terkadang tidak tersampaikan ke level managerial.
    OHSAS telah mengeluarkan referensi lain dalam menentukan kebijakan yaitu berupa BS8800, bahwa bagaimana menetapkan suatu kebijakan. Kebijakan tersebut harus sejalur dengan tujuan manajemen, agar mendapatkan objektivitas dari suatu kebijakan yang sudah ditetapkan.

Perencanaan untuk manajemen kesehatan dan keselamatan

      Perencanaan K3 meliputi :

·         Mengidentifikasi kebutuhan sistem

        Bagaimana mengidentifikasi dari persyaratan manajemen sistem sendiri, jika mengacu pada ISO 45001 maka harus mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan terkait dengan persyaratan itu sendiri.

(Apa yang perlu dilakukan)

·         Menetapkan kriteria kinerja yang jelas

        Dalam menetapkan kinerja harus masuk akal, ada waktu yang diukur dengan baik untuk mencapai suatu hasil yang baik. Tidak mungkin suatu hasil ditetapkan 1-2 hari sedangkan prosesnya membutuhkan waktu 3 bulan.

(Apa yang harus dilakukan)

·         Mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab

         Mengidentifikasi siapa saja yang bertanggung jawab. level manager, senior manager, officer, supervisor, operator semuanya memiliki tanggung jawab untuk mendapatkan objektif dari kebijakan yang sudah ditetapkan.

(Siapa yang menyelesaikan)

·         Pengaturan skala waktu

        Dengan melihat skala waktu, dapat menentukan berapa lama waktunya.

(Kapan harus dilakukan)

·         Mengidentifikasi hasil yang diinginkan

        Untuk melihat apa itu outcome yang ingin diharapkan dari H&S manajemen.

(Apa yang seharusnya menjadi hasil)

Contoh jenis tujuan K3 :

    Bagaimana melihat dan mengidentifikasi dari manajemen sistem, lalu bagaimana mengimprove dari apa yang menjadi target-target yang sudah tercapai dan akan diperbaiki kemudian hari dan menghilangkan bahan berbahaya sebanyak kurang lebih 20%.

Tujuan implementasi :

  • Indikator yang sesuai harus ditentukan untuk setiap tujuan untuk memungkinkan pemantauan pelaksanaan tujuan.
  • Rencana tindakan formal harus dibuat untuk setiap tujuan K3 yang telah diidentifikasi.
Implementasi dan operasi
    Peran dan tanggung jawab:
  • Di semua tingkatan dalam organisasi, orang perlu menyadari peran dan tanggung jawab mereka.
  • Tanggung jawab K3 individu harus didefinisikan dengan jelas.
  • Semua personel harus diberi wewenang dan sumberdaya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka.


Selasa, 17 November 2020

RESUME K3 (Sumber Youtube)


Hazard Identification – The Safety Inspection 

        Inspeksi keselamatan di tempat kerja sangat penting untuk mencegah cedera dan penyakit, tujuan utama dari inspeksi keselamatan ini untuk mengidentifikasi bahaya memeriksa kondisi atau praktik di tempat kerja sehingga perubahan dapat dilakukan.

Bahaya kelistrikan selalu selalu menjadi prioritas dalam inspeksi keselamatan

1.    Hal yang perlu diperhatikan ialah pemeriksaan alat pemadam kebakaran. Contoh bahaya yang dapat diperbaiki harus segera diverifikasi bahwa pin pengunci masih utuh dan segel tidak rusak/terputus, mengkonfirmasi pengukur tekanan atau indicator dalam jarak atau posisi yang dapat dioperasikan dan pastikan petunjuk pengoperasian pada papan nama dapat dibaca, periksa terakhir tanggal layanan pada tag untuk memastikan rekomendasi pabrikan sedang diikuti untuk pemeriksaan rutin.

2.    Mengecek daftar periksa operator lalu Memeriksa kemudi rem, lampu, sabuk pengaman, dan perawatan mesin kendaraan. Pengecekan berkala harus dilakukan dimana merupakan pemeriksaan visual pelat data hidrolik ban dan roda.

3.    Pastikan semua pelindung mesin sudah terpasang tepat dan dalam kondisi baik , memeriksa kunci sesuai dengan prosedur dan pada tempatnya .

4.    Mengecek kondisi alat control mesin.

5.    Memeriksa kran air untuk memastikan tutupnya dengan benar , air mengalir jernih. Setelah melakukan inspeksi , diskusikan masalah bahaya atau kecelakaan yang dapat dihasilkan dari temuan tim. Memprioritaskan yang paling penting untuk diperbaiki terlebih dahulu dan mengembangkan rencana tindakan yang jelas.

 

Introduction to Basic Health and Safety 

        Hal penting yang perlu diingat ketika mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan jangan biarkan diri berada dalam situasi berbahaya. Keselamatan di Work Art tahun 1974 yang menyatakan bahwa akan menjadi tugas setiap karyawan saat bekerja untuk menjaga secara baik untuk kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri dan orang lain yang mungkin terpengaruh oleh tindakan atau kelalaiannya di tempat kerja.

        Keamanan di tempat kerja, diharuskan menjaga diri tetap aman dan bekerja secara efisien, menjaga ruang kerja tetap bersih dan rapi karena tempat kerja yang tidak rapi membuat stress dan frustasi. Harus terbiasa dengan tempat kerja dan pekerjaan yang dilakukan, karena untuk mengetahui titik inti keluarnya api dan alat pemadam kebakaran, jika ingin menggunakan produk selalu membaca label untuk petunjuk agar aman. Melakukan perbaikan pada mesin karena untuk mengurangi kerusakan-kerusakan dan mengurangi resiko kecelakaan dan cidera. Melaporkan insiden kecelakaan dan kerusakan kepada supervisor atau manajer. Jangan mempunyai pikiran untuk memodifikasinya sendiri. Tergelincir saat bekerja adalah penyebab umum dari cedera besar di tempat kerja 95% mengakibatkan patah tulang, terjadi pada saat lantai basah maka sebaiknya segera bersihkan agar tidak membuat orang terpeleset, kecelakaan lain seperti jatuh dari ketinggian. Penyebab umum lainnya adalah kabel trailing jika memungkinkan rutekan ulang kabel ke tempat yang lebih aman dan gunakan tanda peringatan. Jika menggunakan tangga periksalah untuk melihat aman atau tidaknya tangga tersebut . Menggunakan meja dan kursi untuk dijadikan media tangga sangatlah tidak aman.

 

How to Operate Fire Extinguisher - Fire Safety Training

        Ada tiga penyebab utamanya kebakaran yaitu

1.    Oksigen

2.    Bahan bakar

3.    Sumber

        Kebakaran api dibagi menjadi beberapa katagori kelasA, Kelas B ,Kelas C dan kelas D.

  • Kelas A berbagi sumber api padat antara lain Kayu, Pakaian, Kertas
  • Kelas B Berbagai sumber api Cairan yang mudah terbakar (bahan bakar minyak                      solar, methanol, bensin dll)
  • Kelas C sumber logam tabung Lpg, tabung logam
  • Kelas D sumber metal seperti Besi, Pelat Baja

 

Forklift Safety Video - OSHA Training For Forklift Operators 

        Forklift merupakan salah satu alat angkat yang banyak digunakan di industri, termasuk di gudang-gudang. Karena pergerakannya yang sangat lincah, forklift sering menjadi solusi untuk pengangkatan barang yang memerlukan kecepatan dengan lokasi yang relatif sempit. Namun kecelakaan yang melibatkan forklift tidak bisa dianggap sepele, banyak kasus kecelakaan yang melibatkan penggunaan forklift termasuk yang berakibat fatal. Ini sangat memprihatinkan bagi kita semua bahwa sebenarnya kejadian-kejadian kecelakaan tersebut seharusnya bisa dicegah.

        Beberapa cara untuk mengendarai forklip secara aman

1.        Menggunakan alat pelindung diri.

2.       Periksa peralatan sebelum digunakan.

3.       Lihat lingkungan sekitar forklip apakah ada pekerja lain yang sedang berada di dekat forlip.

4.       Melaju dengan perlahan.

5.       Angkut  barang sesuai kapasitas forklip.

 

 

LAPORAN K3 SANGKAR BURUNG

  LAPORAN IDENTIFIKASI BAHAYA DI TEMPAT KERJA P ADA HOME INDUSTRI SANGKAR BURUNG DI DESA MENDALAN WANGI KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG ...