LAPORAN IDENTIFIKASI BAHAYA DI TEMPAT KERJA PADA HOME INDUSTRI SANGKAR BURUNG DI
DESA MENDALAN WANGI
KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG
Ditulis untuk Memenuhi Mata Kuliah Kesehatan dan keselamatan Kerja
Dosen Pengampu: Widhy
Wahyani, S.T., M.M.

Disusun oleh Kelompok 3 :
Raden Edwin Febi Wicaksono 1853006
Bela Isma Imtian 1853014
Geraldy Putra Dewantara 1953014
Anisa Minuril Laily
1953016
PROGRAM
STUDI TEKNIK INDUSTRI D-IV
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT
TEKNOLOGI NASIONAL
MALANG
2020
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur
penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Laporan Identifikasi
Bahaya K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja) Laporan ini berisikan tentang bagaimana
kondisi lapangan home industri (sangkar burung), beserta analisis potensi
bahaya dan upaya pengendaliannya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun demi penyempurnaan laporan ini.
Harapan penulis semoga
laporan ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca,
sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk ataupun isi laporan yang telah di
buat.
Akhir kata, semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak orang khususnya pembaca dan semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kami. Aamin
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Keselamatan
kerja menunjukkan bahwa perlindungan kesejahteraan fisik dengan tujuan mencegah
terjadinya kecelakaan atau cedera yang berhubungan dengan pekerjaan yang sehat
untuk merujuk pada fisik, kondisi, dan stabilitas emosi secara umum. Kondisi
kesehatan yang sehat, akan menjadi kinerja yang optimal daripada karyawan
dengan kondisi kesehatan yang buruk dapat menggangu kinerja karyawan.
Keselamatan harus ditanamkan dan menjadi kebiasaan hidup yang dipraktekkan
sehari-hari. Keselamatan kerja merupakan satu bagian dari keselamatan pada
umumnya. Salah satu bentuk perhatian perusahaan kepada karyawan untuk
meminimalisir resiko kecelakaan kerja adalah dengan memaksimalkan program
keselamatan dan kesehatan kerja didalam perusahaan/pabrik. Program K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
merupakan suatu upaya untuk menekan atau mengurangi resiko kecelakaan dan
penyakit akibat kerja. Dalam dunia usaha dan industri, penerapan K3 sangatlah
penting untuk diperhatikan. Hal ini dilakukan agar pekerja terhindar dari
berbagai kecelakaan kerja yang dapat berdampak pada tingkat produktivitas
pekerja dan dapat mempengaruhi kualitas produk dalam suatu produksi.
Proses
Industrialisasi masyarakat Indonesia berkembang pesat dengan berdirinya
perusahaan dan tempat kerja yang beraneka ragam. Perkembangan industri yang pesat ini diiringi pula oleh
adanya risiko bahaya yang lebih besar karena adanya alih teknologi dimana
penggunaan mesin dan peralatan kerja yang semakin kompleks untuk mendukung berjalannya proses produksi. Tingginya kasus kecelakaan
kerja menunjukkan bahwa masih kurangnya kesadaran tenaga kerja maupun
perusahaan dalam penanganan masalah keselamatan kerja. Oleh karena itu
dibutuhkan suatu pengukuran risiko kecelakaan kerja dengan metode identifikasi
bahaya yang bisa menganalisis . Potensi bahaya terdapat hampir di setiap tempat
dimana dilakukan suatu aktivitas baik di rumah, di jalan maupun di tempat
kerja. Apabila potensi bahaya tersebut tidak dikendalikan dengan tepat akan
menyebabkan kelelahan, kesakitan, cedera, dan bahkan kecelakaan yang serius.
Sangkar
burung merupakan kerajinan tangan yang sangat berpotensi untuk
dikembangkan. Sangkar burung sendiri yang berasal dari provinsi Jawa
Timur.
Sangkar burung adalah industri yang sangat berpotensi untuk memajukan
perekonomian didaerah, dengan adanya industri tersebut banyak penyerapan
tenaga kerja, menjadikan orang untuk berwirausaha, dan memberikan
daerah
tersebut lebih dikenal di daerah lain dan bisa sampai kemancanegara. Sangkar
burung merupakan kerajinan yang harus dikembangkan agar tetap lebih
maju sampai ekspor ke negara negara lain. Indonesia sendiri sudah
mempunyai
pesaing dalam kerajinan sangkar burung yaitu dengan negara Vietnam.
Industri sangkar burung banyak memiliki permasalahan yang sangat komplek,
masalah tersebut yang nantinya akan mengganggu dari keberlangsungan
industri itu sendiri. Permasalahan tersebut
yaitu tempat kerja, alat yang digunakan,
prosesnya, tenaga kerja, dan penerapan K3 pada industri tersebut.
Penelitian
ini dilakukan di Desa Mendalan Wangi
Kecamatan
Wagir Kabupaten Malang. Setelah
dilakukan penelitian, terdapat potensi bahaya yang memiliki tingkat
resiko/peringkat risiko tertinggi yakni, bahaya kerja fisik dan bahaya kerja
ergonomi. Dampak bahaya yang akan terjadi pada bahaya fisik dapat berupa
bising,vibrasi akibat penggunaan mesin yang lama sehingga menggakibatkan cedera
(nyeri otot,mual dan gangguan pembulu darah). Dampak bahaya yang akan terjadi
pada bahaya ergonomi adalah melakukan gerakan berulang atau posisi yang menetap
selama melakukan pekerjan yang dapat menimbulkan pegel linu, nyeri sendi, sakit
pinggang. Langkah-langkah pembuatan sangkar burung ini tidak membutuhkan waktu
yang lama, namun setiap prosesnya mempunyai tingkat resiko yang berbahaya
apabila tidak menerapkan prosedur k3.
Semua
kendala dari industri tersebut dari segi keamanan memang cukup jauh
yang masih diharapkan dari setiap industri, serta alat dan tempat yang
digunakan masih kurang aman. Semua dari kendala itu harus
adanya evaluasi agar bisa memenuhi prosedur keamanan kerja.
Dalam proses identifikasi bahasa dan penilaian risiko bahaya dapat dilakukan dengan metode
Job Safety Analysis (JSA). Penerapan metode JSA bertujuan untuk
mengidentifikasi semua potensi bahaya yang terdapat disetiap area kerja dengan
mengaitkan antara pekerja, proses kerja, peralatan kerja dan lingkungan kerja.
Dengan demikian dengan JSA ini dapat diketahui hal-hal yang
dapat dipertimbangkan untuk memberi keamanan pada karyawan sangkar burung,
sekaligus pemasaran produk dapat sesuai dengan kebutuhan.
Industri
sangkar burung merupakan kerajinan yang memiliki prospek yang
sangat menjajikan. Industri ini memproduksi sangkar burung dalam 1 bulan ±20
sangkar. Berdasarkan hasil dari survei pendahuluan di Industri sangkar
burung Desa Mendalan Wangi Kecamatan wagir Kabupaten
Malang dengan cara melakukan wawancara dengan pihak karyawan diketahui bahwa
tidak pernah terjadi kecelakaan hingga memakan korban jiwa. Kecelakaan kerja
yang sering terjadi adalah kecelakaan kecil seperti tersandung kayu dan kabel.
Kecelakaan yang pernah terjadi namun sangat berbahaya adalah tertimpa
kayu/bambu dan tergores mesin. Berdasarkan Uraian tersebut peneliti memilih
metode Job Safety Analysis karena metode ini menggunakan empat tahap sederhana
dan mengidentifikasi hazard yang berhubungan dengan aktivitas pekerjaaan
seseorang dan untuk mengembangkan pengendalian terbaik untuk mengurangi risiko
serta terlebih lagi di industri sangkar burung Desa Mendalanwangi Kecamatan
Wagir Kabupaten Malang belum pernah dilakukan pengidentifikasian bahaya dan
penilaian resiko menggunakan metode JSA, maka dari itu kami tertarik melakukan
penelitian terkait identifikasi bahaya menggunakan metode JSA di pabrik dupa
Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.
1.2 Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah industri sangkar burung di Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir dalam penerapan K3 dengan menggunakan JSA sebagai berikut :
1.Bagaimana cara mengidentifikasi bahaya kerja industri sangkar burung di Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir ?
2. Bagaimana cara penilaian resiko industri sangkar burung menggunakan metode JSA?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan
disampaikan dari penelitian ini sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui cara mengidentifikasi bahaya kerja industri sangkar burung
di
Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir
2. Untuk mengetahui penilaian
resiko industri sangkar burung
menggunakan metode JSA
1.4 Manfaat
Penelitian
Penelitian ini
diharapkan akan bermanfaat bagi :
1.
Mampu mengetahui apa saja bahaya kerja
pada industri sangkar burung di Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir
2.
Mampu melakukan pengendalian risiko
dari hasil potensi bahaya
3.
Mendapat pemahaman tentang
pentingnya penerapan K3 (Kesehatan
dan Keselamatan Kerja) pada setiap industri, pabrik, dan
perusahaan
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Industri Sangkar Burung
Sangkar
burung merupakan kerajinan tangan yang sangat berpotensi untuk
dikembangkan. Sangkar burung sendiri yang berasal dari provinsi Jawa
Timur.
Sangkar burung adalah industri yang sangat berpotensi untuk memajukan
perekonomian didaerah, dengan adanya industri tersebut banyak penyerapan
tenaga kerja, menjadikan orang untuk berwirausaha, dan memberikan
daerah
tersebut lebih dikenal di daerah lain dan bisa sampai kemancanegara. Industri
sangkar burung merupakan kerajinan yang memiliki prospek yang
sangat menjajikan. Industri ini memproduksi sangkar burung dalam 1 bulan ±20
sangkar. Semua kendala dari industri tersebut dari segi keamanan memang cukup
jauh
yang masih diharapkan dari setiap industri, serta alat dan tempat yang
digunakan masih kurang aman. Semua dari kendala itu harus
adanya evaluasi agar bisa memenuhi prosedur keamanan kerja.
Dalam proses identifikasi bahasa dan penilaian risiko bahaya dapat dilakukan dengan metode
Job Safety Analysis (JSA). Penerapan metode JSA bertujuan untuk
mengidentifikasi semua potensi bahaya yang terdapat disetiap area kerja dengan
mengaitkan antara pekerja, proses kerja, peralatan kerja dan lingkungan kerja.
a.
Pemotongan
Kayu
Langkah peratama adalah pemotongan kayu.
Caranya adalah potong kayu sesuai dengan ukuran yang ditentukan.

Gambar 2.1 Pemotongan papan kayu
b.
Pengamplasan
kayu
Langkah kedua ialah pengaplasan dimana
proses ini untuk menghilangkan serat kayu, menyesuaikan ketebalan kayu dan
menegaskan warna kayu

Gambar 2.2 Pengamplasan kayu
c.
Potong
kayu menjadi ukuran lebih kecil
Pada tahap ini kayu
dipotong hingga menjadi potongan kecil dimana potongan tersebut akan digunakan
sebagai jeruji

Gambar 2.3 Pemotongan kayu menjadi
lebih kecil
d.
Pengeboran
kayu
Pada tahap ini kayu di bor hal ini agar
bisa ditempelkan di jeruji

Gambar 2.4 Pengeboran kayu
e.
Memotong
lengkung bagian atas sangkar
Pada tahap ini
dilakukan pemotongan kayu yang digunakan pada bagian atas sangkar.

Gambar 2.5 Pemotongan lengkung
bagian atas sangkar
f.
Proses
perakitan sangkar burung
Pada tahap ini satukan masing-masing
rangka sampai membentuk sangkar burung

Gambar 2.6 Perakitan sangkar burung
2.2 Penilaian Risk Assessment
|
RISK
ASSESSMENT |
|
|||
|
NO |
Uraian Pekeerjaan |
Potensi Bahaya |
Upaya Pengendalian |
|
|
1. |
Pemotongan kayu |
Tingkat
penglihatan kurang |
-
Pemberian lampu |
|
|
tembok
pabrik yang terbuat dari bambu dan minim sirkulasi udara , sehingga butiran
debu sisa pemotongan tidak dapat keluar , jika hal ini dibiarkan terus
menerus akan menyebabkan gangguan pernafasan. |
-
Pemberian jumlah jendela yang benar |
|
||
|
alat
pemotong kayu yang tidak terlindungi, alat pemotong ini rawan sekali mengenai
tangan pekerja |
-
Pemberian pelindung pada alat pemotong |
|
||
|
tempat
duduk yang tidak ergonomis , jika hal ini terus berlanjut maka pekerja akan
mengalami penyakit Disorder musculoskeletal |
-
Penggunaan kursi yang sesuai dengan postur tubuh |
|
||
|
kabel
mesin yang berserakan . hal ini dapat membuat pekerja tersantung atau bahkan
tersengat listrik. |
-
Pemberian jalur khusus kabel |
|
||
|
Jari
terkena mesin |
-
Memperhatikan posisi tangan sebelum mengoperasikan -
Memakai sarung tangan pengaman |
|
||
|
Sesak
nafas |
-
Memakai masker |
|
||
|
Kaki tersandung kayu |
- Pemberlakuan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) |
|
||
|
Mata terkena serpihan kayu |
-
Menggunakan kacamata pengaman |
|
||
|
Kaki tergores kayu |
-
Memakai sepatu pengaman |
|
||
|
2. |
Pengamplasan kayu |
-
Terkena mesin amplas |
-
Memperhatikan posisi tangan sebelum mengoperasikan |
|
|
-
Posisi
duduk yang tidak ergonomis karena terlalu membungkuk , jika hal ini terus
terjadi maka pekerja akan mengalami disorder musculoskeletal. |
-
Penggunaan kursi yang sesuai dengan postur tubuh |
|
||
|
-
Kejang otot |
-
Mengoperasikan
mesin ditempat yang ergonomi |
|
||
|
-
Mata terkena serpihan kayu |
-
Menggunakan kacamata pengaman |
|
||
|
-
Tangan
pekerja rawan terkena potongan kayu/mesin |
-
Pengguanaan sarung tangan pengaman |
|
||
|
- Kaki terkena alat/bahan yang tajam |
- Menggunakan sepatu pengaman |
|
||
|
-
Sesak napas akibat debu/serpihan kayu |
-
Menggunakan masker |
|
||
|
-
Lingkungan stasiun kerja kotor sehingga dapat
menjadi sarang penyakit |
-
Pembersihan secara berkala -
Pemberlakuan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat,
rajin) |
|
||
|
-
Kesetrum alat |
-
Menggunakan sarung tangan pengaman |
|
||
|
-
Pekerja bisa terluka akibat tertimpa atap yang
berpotensi roboh karena penyangga atap terbuat dari bambu |
-
Melakukan perubahan pada tiang penyangga atap
dengan sesuai standar pembangunan yang ada |
|
||
|
3. |
Pemotongan kayu ukuran kecil |
-
Kurangnya pencahayaan |
-
Pemberian lampu |
|
|
-
Tangan terkena mesin |
-
Memperhatikan posisi tangan sebelum mengoperasikan |
|
||
|
-
Sesak nafas |
-
Memakai masker |
|
||
|
-
Tersandung kayu |
- Pemberlakuan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) |
|
||
|
-
Tersengat listrik |
-
Memberikan jalur khusus kabel -
Menggunakan sarung tangan pengaman |
|
||
|
-
Kaki tergores kayu |
-
Menggunakan sepatu pengaman |
|
||
|
|
|
-
kabel yang
berserakan, pada saat proses ini pekerja berisiko tersandung atau tersengat
aliran listrik |
-
Pemberlakuan jalur khusus kabel |
|
|
|
|
-
posisi duduk yang tidak ergonomis sehingga dapat
menyebabkan pekerja mengalami kelelahan otot atau disorder musculoskeletal.( |
-
Pemberian kursi sesuai postur tubuh |
|
|
4. |
Pengeboran kayu |
-
Terkena mesin bor |
-
Berhati-hati saat menggunakan mesin bor |
|
|
-
Tersengat listrik |
-
Membuat jalur kabel -
Menggunakan sarung tangan pengaman |
|
||
|
-
Kebisingan |
-
Memakai earplug |
|
||
|
- Terkena serpihan kayu |
- Mengenakan kacamata pengaman |
|
||
|
-
Terpeleset |
-
Pemberlakuan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat,
rajin) -
Menggunakan sepatu pengaman |
|
||
|
5. |
Pemotongan lengkung bagian atas sangkar |
-
Tangan terkena mesin pemotong |
-
Menggunakan sarung tangan pengaman -
Berhati-hati dalam posisikan tangan |
|
|
- Tertimpa kayu |
- Mengenakan sepatu pengaman |
|
||
|
-
Sesak napas |
-
Menggunakan masker |
|
||
|
-
Terkena serpihan kayu |
-
Menggunakan
kacamata pengaman |
|
||
|
6 |
Perakitan sangkar burung |
-
Tertusuk kayu |
-
Mengenakan sarung tangan |
|
|
-
Tersandung kayu |
-
Pemberlakuan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat,
rajin) |
|
||
|
-
Kurangnya pencahayaan |
-
Pemberian lampu |
|
||
|
- Kaki tergores kayu |
- Memakai safety shoes |
|
||
|
|
-
Terhirup serpihan kayu |
-
Memakai masker |
|
|
|
-
Terkena serpihan kayu |
-
Memakai kacamata pengaman |
|
||
BAB
III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1.
Pada setiap stasiun kerja terdapat banyak sekali potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan bagi pekerja.
2.
Rekomendasi yang diberikan kepada pengusaha, berdasarkan sumber bahaya yang
ada, meliputi sikap pekerja dan kondisi lingkungan kerja. Untuk memperbaiki
sikap pekerja, perlu dibuat prosedur operasional baku untuk keselamatan dan
kesehatan kerja (K3). Untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja, perlu
dilakukan perbaikan sesuai kondisi yang dihadapi.
3.2
Saran
1.
Pengawasan terhadap proses kerja harus lebih di tingkatkan agar pekerja tidak
melakukan hal-hal yang menyimpang dari ketentuan yang telah di berikan seperti
mematuhi rambu tanda kecepatan kendaraan.
3.
Memberikan atau membuka kesempatan pada para pekerja untuk mengikuti pelatihan
mengenai K3 sehingga pekerja lebih memahami tentang tindakan keselamatan dalam
bekerja.
4. Memberikan sangsi
pada pekerja yang melanggarar aturan.
DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.ums.ac.id/36395/7/04.%20BAB%20I.pdf